Jumat, 25 Desember 2015


Yogyakarta,25 Desember 2015


                            Nikmat dari Tuhan dan Alam, Siapa yang Berdusta? 
                                                             (Mari berpikir!)

Allah SWT berfirman dalam al quran yang berbunyi:
Ädr'Î6sù ÏäIw#uä $yJä3În/u Èb$t/Éjs3è? ÇÊÌÈ  

Artinya:. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (55:13)
      
             Sebagai pembuka cerita yang singkat , alangkah indahnya melantunkan ayat al-quran sebagai wujud kecintaan kita terhadap Allah SWT walaupu sepenuhnya diri saya belum memungkinkan untuk dikatakan sebagai orang betul-betul beriman kepada Tuhan yang maha kuasa.

          Mungkin saya menuliskan sedikit apa yang terlintas dalam pikiran saya mengenai adanya peristiwa atau fenomena yang menyangkut dengan alam dan dunia. Ada beberapa hal yang menarik bagi saya untuk memikirkan lebih jauh tentang bagaimana bisa sepenuhnya manusia menyikapi alam atau yang ada di sekitanya atas landasan dari diri mereka sendiri. Mungkin ini yang saya anggap sebagai problema yang agak sulit karena disamping itu semua manusia pasti tak lepas dari sudut pandang mereka masing-masing. Jadi, wajarlah menurutku itu kerap terjadi dan diharap untuk bisa dimaklumi. Akan tetapi misteriusnya penilaian terhadap peristiwa ataupun fenomena baik yang terjadi pada manusia itu sendiri maupun kepada yang lainnya itu dianggap sebagai suatu hak yang biasa-biasa saja dalam artian se-enaknya saja mengambil keputusan bahwa apa yang alam (baik berupa kenikmatan,kesenangan,dsb) berikan kepada mereka itu semuanya adalah serba salah dan didasari oleh berbagai tuntutan.

          Perlu diketahui bahwa apa yang alam sajikan itu hanya digantung oleh ruang dan waktu sepenuhnya. Bukan berarti semua ketidaknyamanan manusia terhadap alam itu harus dituntut dan menyalahkan fenomena yang terjadi. Seperti yang dijelaskan oleh salah satu ayat alquran di atas bahwa mengenai kenikmatan yang Tuhan berikan kepada makhluk itu sebenarmya luas dan tak mungkin bisa untuk di ukur nilainya. Nah, nikmat tersebut pun ada di mana-mana terkhususnya yang saya tuliskan ada di alam sekitar kita yang mungkin secara individu tak banyak yang menyadari akan hal itu. Jadi secara garis besarnya sudah semestinya manusia yang merasa dirinya adalah makhluk Tuhan harus bersyukur atas apa yang telah diberikan kepadanya.

             Namun yang mungkin masih menjadi pertanyaan saya disini bahwa alam dalam artian dunia ini yang dijadikan sebagai pusat kesalahan atan tekanan dari manusia itu sendiri. Tidakkah yang menjadikan di belahan bumi ini menjadi tercemari oleh karena perbuatan tangan manusia?. Tidakkah suatu kejanggalan yang terlahir dari dunia itu karena apa yang manusia perbuat terhadap alam?. Masih ringan penjelasan kalau ada orang yang mengatakan bahwa fenomena alam itu terjadi karena hasil tuntutan dari alam sendiri. Seperti misalnya orang-orang beranggapan bahwa di dunia ini peristiwa gempa bumi dan Tsunami maupun meletusnya sebuah gunung berapi itu terjadi karena atas kehendak alam itu sendirinya. Jadi manusia tak patut untuk disalahkan. Dan saya setuju dengan pendapat tersebut. Akan tetapi, apa yang terjadi seperti peristiwa tadi itu saya anggap sebagai seni dari alam.

             Pasalnya, yang menjadi inti dari pertanyaan yang sebenarnya adalah “Bagaimanakah dengan peristiwa alam yang kerap terjadi semisalnya banjir,tanah,longsor,polusi udara, dsb?. Apakah perlu ada tuntutan dari manusia akan hal itu?.  Pastilah mereka manusia yang aneh yang berarni menuntut alam atas peristiwa itu. Bukankah yang menjadi dalangnya adalah manusia itu sendiri?. Namun dibalik semua ini apa yang mereka katakan atas fenomena yang kerap terjadi itu?. Di telinga saya sudah banyak bisik-bisikan “Hei Bung! sudah tua mi meman bumi, jadi waja saja toh kalo sudah banyak mi terjadi peristiwa aneh.” Tapi kilasnya menurut saya bagaimanapun usia bumi pasti kondisinya tergantung dari campur tangan manusia. Maka dari itu tak pantas tuntutan itu di keluarkan se-enaknya saja oleh manusia. Seharusnya sebagai manusia yang berpikir itu mestinya menuntut dirinya sendiri sebelum menuntut siapa dan apa yang ada di sekitarnya. Dan bisa saja sudah sepatutnya alam menuntut balik atas kesalahan manusia yang telah diperbuat, akan tetapi nyatanya alam lebih menampakkan loyalitasnya kepada Tuhan. Dan bisa jadi mengalahkan ciptaan Tuhan yang dianggap paling sempurnah.

              Nah, mungkin disini kita bisa menilai eksistensi manusia yang mampu bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan. Karena tidak menutup kemungkinan orang yang mampu memahami apa yang saya tuliskan di atas itu adalah orang yang paham akan perintah untuk mensyukuri dan mengingat kembali tentang apa yang telah diciptakan Tuhan(Tafakur) baik yang mereka sadari maupun tidak. Adapun menurut saya, bahwa orang yang tak mampu bertoleransi dengan kenikmatan dari Tuhan maupun sumbangsih alam yang telah diberikan kepadanya itu karena sebab indivisualisme masing-masing. Sehingga tidak peka terhadap peristiwa-peristiwa disekitarnya yang mengandung banyak hikmah. Malahan mungkin dijadikan sebagai bahan tertawaan maupun celotehan olehnya.

                Maka pesan saya dari tulisan singkat ini adalah rasakan kenikmatan yang telah diberikan Tuhan oleh kita, kalau tidak bisa lebih baik diam untuk menghindar dari rasa menuntut yang tidak sewajarnya.  Dan mungkin menurut saya bahwa salah satu jalan mampu bersyukur/merasakan kenikmatan dari Tuhan adalah “Berproseslah hingga dirimu menyatu dengan Tuhan dan alam!

Ditulis oleh: ilham   

0 komentar:

Posting Komentar