Senin, 18 Januari 2016

 

Lilin Leleh Luluh


Lilin dan sebuah cerita hidup
Aku menyatu dalam rentetan lilin
Merana di atas lahapan api
Bahagia di atas tiupan angin
Aku membenci lilin….
Tubuhku dibakar dalam keinginannya
Melelehkan dirinya pada kerabatku
Hawa lilin begitu panas dalam kebohongannya
Aku mencintai lilin….
Bibirku tersenyum dalam padamnya
Mengalirkan kenangan dari tubuhnya yang dibakar
Hingga kerabatku dibekukan dalam lelehannya
Karena lilinku adalah hidupku
Oh, lilin..  janganlah padam sebelum aku tiup


Yogyakarta,15 Januari 2016

Minggu, 10 Januari 2016


 Di Pondok Gurutta’, Dalam Lembaran Bujang 

Pagi-pagi sekali,  kelas masih berkabut dan dingin. Tak kunjung tiba seorang pun gurutta’[1] dan murid lainnya. Masih terlihat seseorang menyendiri di dalam kelas. Menghembus nafasnya dengan perlahan. Bertingkah aneh layaknya tikus bingung mencari makan. Merayu diri dalam kesunyian.
“Plak!” terdengar gemuruh dari dalam kelas. Lembaran bujang[2] yang berhamburan di depan kelas. Musim gugur seolah terjadi dalam lingkungan sekolah. Aku melihatmu disambut pagi dengan geram dan tak bergairah.
Akhir-akhir ini kau dibalut kebiasaan aneh. Di bugis, di pondok gurutta’ kau  maradde[3] hampir empat tahun. Padahal sudah sembilan belas tahun keluarga kami menyebutnya Rahmatul Asri taman cinta kita. Belum lagi puang[4] yang setia menjaga pondok gurutta’.
Esok hari lagi, kau menyendiri dalam kelas. jauh dari teman-teman kita. Kukira kamu tak mendengar teriakanku di meja gurutta’.  
“Sudah ,cerita saja!” pintaku pada seorang anaddara[5], rupanya cantik dan indah bagaikan rembulan yang muncul di bitara[6] malam.
“ Nampaknya, pondok gurutta’ tak diterima lagi oleh tubuhku” ucapmu dengan syahdu.
“Sudahlah, hampir empat tahun lamanya kita sama di pondok gurutta’ tak ada yang salah bagi tubuhku”. Timpalku balik.
Sudah kutebak, anaddara yang dititipkan oleh  ambo’nya[7] itu tak suka dengan busana panjang. Dia lebih suka dengan indahnya kerlap-kerlip malam hari. Padahal di pondok gurutta’ langit di malam hari juga dihiasi banyak bintang. Sedangkan indo’nya[8] juga tak suka anaknya memakai busana panjang. Indo’nya lebih suka anaknya maradde di sekolah model.
Kala itu di bola pattarima tamu[9] pondok, terdengar panggilan untuk Naimah. Si anaddara itu kedatangan tamu. Aku kira tadinya kau sedikit tegang bercakap  denganku. Tapi raut mukamu tiba-tiba saja berubah.
“Ada apa?” tanyaku padamu.
Ambo’ dan Indo’ku datang menjemputku”
“Hari ini? ” kejutku. Aku lihat matamu mulai berbinar-binar.
“Iya, saat ini juga”
Aku yakin kamu sangat senang dengan hal itu. Melihatmu mendengar pertanyaanku itu sudah tak kau pedulikan. Beberapa jam lagi kamu akan beranjak dari gerbang pondok gurutta’. Kulihat koper,tas,dan gulungan kasur sudah siap dalam bagasi mobil.
“Sudah mau berangkat?” tanyaku yang sebenarnya ingin menahanmu lebih lama.
“Iya, “ jawabmu sangat singkat. Wajahmu tampak lesu dan sedikit puas hari ini.
Mobilmu melaju dan meninggalkan pondok. Aku lihat suasana aneh di dalam mobilmu. Ah, tapi masa bodoh bagiku hari itu. Aku coba tinggalkan suasana.
Curah hujan di sore hari. Menyejukkan terik panas matahri. Angin terasa leluasa bermain dengan dedaunan pohon. Di halaman balai bambu gurutta’, Aku melihat dia menyusun bujang yang berserakan didepan kelas tadi. Aku membantunya menyusun bujang-bujang itu dan kucoba selipkan tanyaku padanya.
“Ustadz, Naimah punya masalah apa?” aku bercerita tentangmu dengan kaku.
“Oh,itu. Saya kurang tau juga.” Singkat sang gurutta’. Bergegas masuk ke kamarnya.
Kulihat gurutta’ lagi letih. Kuhabisi sisa air di gelasnya. Tak peduli masalah tadi ,lalu aku beranjak dari tempat gurutta’.
Hari terus berganti,  sudah setahun tak jumpa. Akupun baru dapat kabar darimu. Kau menikmati hari-hari di sekolah barumu. aku mendengar seorang anaddara yang begitu cerdas diantara temannya. Rupanya indo’mu sangat senang melihatmu lebih meningkat daripada semasa nyantri di pondok gurutta’. Beda dengan ambo’mu yang lebih senang duduk di atas kadera aju[10]. sepertinya ambo’ mu menyimpan banyak rahasia layaknya dendam.
Rasanya jenuh, kuingin bepergian hari ini. Aku atas izin gurutta’ beranjak dari pondok. Dalam perjalanan, Kulihat diriku ragu untuk bepergian di tempat jauh. Bulu-buluku merinding, kakiku agak bergetar sesaat mobil yang aku tumpangi tiba di depan sebuah halaman rumah yang indah dipenuhi bunga-bunga yang cantik. Pemiliknya seakan sama dengan taman ini, pikirku. Akupun singgah.
Lebih dekat lagi di depan ambang pintu. Aku dibuat kagum oleh gambar kaligrafi yang menempel di pintu bambu yang terlihat rapuh. Penasaran  ingin tahu siapa yang membuatnya.
“Tok,tok,tok!” ketukku tiga kali dengan sedikit tegang. Pintu terbuka perlahan dan terlihat seorang anaddara yang terlihat lebih cantik dibandingmu Naimah. Rambutnya panjang,berkulit putih dan tampil seksi layaknya artis. Tampaknya ia mentupi muka dengan tangannya yang bergetar. Tapi aneh, wajahnya tak ingin dilihat olehku.
“Naimah!. tamu disuruh masuk nak!” teriak suara ambo’-ambo’ dari dalam rumah kepada anaddara di depanku.
“Iya, mbo’ ” ungkapya. Berhenti menutupi muka dengan kedua tangannya.
Aku pun terkejut melihat itu. Ternyata kamu, Naimah. Seorang anaddara yang begitu dikenal dengan parasmu yang cantik. Harimu selalu dililit oleh kudung[11] tampak indah dilengkapi senyummu. Paling tahu tentang ilmu agama di pondok dulu. Sungguh tak lagi berarti  untuk itu.
“Tunggu, kau tak mengerti apapun” jelasmu padaku. Kau terlihat tegang, seakan kau mencoba meyakinkanku suatu hal.
“Sudah, cukup bagiku waktu itu” kesalku dan kecewa melihatmu. Seakan membencimu Naimah.
Padahal dulu, kulihat kau selalu menegur teman kita yang tak dapat kursi untuk makan dan minum. Kau jaga dustamu pada gurutta’. Manakala kau tak pernah tinggalkan shalat malammu.
“Itu dulu!” terkamu padaku. Aku tatap matamu berkaca-kaca. Kau terlihat menyembunyikan sesuatu Naimah.
“Masih tak mau cerita Naimah?” ku ulang kata itu dari setahun yang lalu.
“Tidak,! Bagaimana mungkin kau peduli?” wajahmu terlihat mendendam Naimah. Yah, seperti ambo’mu. Kau jawab itu dengan tanya pula. Kau membuatku kaku Naimah. Tanyamu membuatku sadar dan merasa aneh. Bagaiman mungkin aku peduli?
Terlihat suasana rumahmu berantakan. Serpihan kaca di lantai yang terabaikan. Aku dengar suara gaduh di kamar dekat ruang tamu.
“Sudahlah mbo’, itu sudah berlalu!” tegas indo’mu penuh kesal.
“Itu semua karena idemu kan?”. Tukasnya. wajah ambo’ melampiaskan amarah.
“Tapi, mau apa lagi? Semuanya telah terjadi mbo’. Lanjut indo’ sangat sesal.
“Andaikan saja waktu itu….” Kaku ambo’mu dan buyar air matanya.
Aku mengikutimu Naimah, saat kau merintih berlari masuk ke kamar itu.
“Sudah cukuplah mbo’!” teriakmu. tampak kau betul-betul menangis Naimah.
“Ada apa mbo’?” tanyaku.
Aku coba mencampuri urusan rumah tanggamu. Sungguh terlihat suasana menyedihkan. Aku betu-betul tak mengerti. Apa sebenarnya yang terjadi Naimah?
“Dia, Anakku. belum menikah sudah tidur dengan pria lain” timpal ambo’mu membuka aib keluarganya karena begitu kesal dan marah.
Aku melihat kau berlari masuk ke dalam kamarmu. Sungguh deras air matamu Naimah. Matamu terlihat membengkak . Sungguh deras pula rasa kecewa teman kita padamu. Aku mencoba menenangkan ambo’ dan indo’. Lalu beranjak jauh dari rumahmu.
Seminggu kau mengurung diri dalam kamar Naimah. Sudah berapa banyak tumpukan piring nasi yang basi dekat kasurmu. Kau terus memikirkan hal itu hingga membuatmu dirawat di rumah sakit.
Ambo’mu pun terlihat begitu. Lebih suka duduk di kadera aju andalannya itu. Dia bercerita banyak padaku tentangmu Naimah.
“Nak, sudah dari dulu saya mengharapkan anaddara yang pandai tentang agama” tutur ambo’mu  padaku dengan segala keyakinannya.
Sudah lima hari kau di rumah sakit Naimah. Hingga suatu saat keadadaanmu kritis. Sungguh aku merasa panik dan khawatir. Hari itu Aku menjengukmu. Masih terbayang ucapmu waktu itu “Bagaimana mungkin kau peduli?”. Suatu misteri bagiku Naimah.
“Tit,tit,tit,tit,tit!” Aku melihat alat di sampingku mulai berbunyi panjang. Monitor yang mulai menampakkan garis lurus Naimah. Sedangkan disampingku, hanyalah ambo’mu yang buyar air matanya sejak pagi tadi.
“Naimah, bangunlah nak!. Maafkan ambo’ nak, indo’ tak ada disini” tangis ambo’mu begitu membanjiri selimutmu.
Dadaku sesak Naimah. Terasa malaikat telah berkerumun di kamar ini. Aku bercerita dengan tubuhmu yang terlentang. Aku menyesal Naimah. Aku telah membencimu. Sudah kuduga kau tak seperti itu. Indo’mu lah yang memaksamu berbohong kepada orang-orang bahwa kau telah melanggar larangan puang. Indo’ lah yang tak suka kau seperti yang diharapkan ambo’mu.
“Bangunlah nak!, kita kembali ke pondok gurutta’” harap ambo’ lagi.
“Titit,titit,titit,titit!.Ajal mendekatimu Naimah. Ambo’ sudah tak mampu membendung air mata, begitupun aku.
“Naaiiimaahhh!” teriakkan ambo’ begitu keras. Tubuhmu baru saja menjadi mayat.
 Kau telah meninggalkan kami Naimah. Tak kau titip salam pada ambo’,indo’,gurutta’ dan teman kita. Hanyalah air mata menetes dipipimu.
Aku bercerita di depan mayatmu yang bercucuran air mata. Kau tak seperti itu Naimah. Lakumu yang baik dan disenangi banyak orang. Lantas aku jujur dari tanyamu “Bagaimana mungkin kau peduli?” karena aku mencintaimu Naimah.
Hari itu, kau memilih beranjak dari pondok gurutta’. kau melindungiku agar ambo’ dan indo’mu tidak tahu kalau aku selalu mengintai dan seolah mengisi harimu. Aku tahu ambo’ dan indo’ tak suka melihat itu. Ambo’lah yang bercerita tentang itu.
Aku buka lembaran bujang itu. Aku membacanya di depan mayatmu Naimah. “Aku mencintaimu Farhan. Kuharap kau tak percaya itu!” Tulismu padaku dalam bujang.



*Catatan:
1 . Gurutta’ : sebutan bagi para kyai/ustadz di daerah bugis
2.  Bujang : kertas
3 . Maradde : Menetap/tinggal
4 . Puang : Tuhan
5 . Anaddara : Gadis
6 . Bitara : Langit
7 . Ambo’ : Bapak
8 . Indo’ : Ibu
9 . Bola pattarima tamu : Baruga penerimaan tamu
10 .Kadera aju : Kursi kayu.
11 .Kudung : kerudung/jilbab.







*Tentang Penulis:


Ilham M.R, lahir di Enrekang, Sulawesi selatan, pada 15 Januari 1997. Ia adalah alumni MAS Rahmatul Asri Maroangin, Enrekang, Sulawesi selatan. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2015 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas Adab dan Ilmu Budaya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. 
Sedari duduk di bangku MA (Madrasah Aliyah), Ia mulai hoby dengan menulis dan mencoba latihan untuk berkarir dalam dunia kepenulisan. Ia juga aktif di organisasi KIR (karya Ilmiah Remaja). Saat menghabiskan banyak waktu untuk terus latihan menulis dan saat itu pula ia mencoba menyumbangkan karya tulisannya kepada media kecil(kareba pustaka) majalah yang diterbitkan setiap bulan mengenai kabar di daerah Sulawesi selatan.
Kini, Ia aktif mengikuti beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baik internal maupun eksternal kampus, seperti: UKM LPM ARENA (Lembaga Pers Mahasiswa) sebagai reporter, Komunitas JOGJA RAMA (Ikatan Alumni Rahmatul Asri cab.Yogyakarta) sebagai penulis artikel singkat ,PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Dll. Untuk mengenalnya lebih jauh silahkan hubungi via email : ilhamrusdi13@yahoo.co.id / ilhamrusdi13@gmail.com
HP: 0821-8787-9955
FB: إلهام رسدى
Akun COC: ilho'108