Di Pondok Gurutta’, Dalam Lembaran Bujang
Pagi-pagi sekali, kelas
masih berkabut dan dingin. Tak kunjung tiba seorang pun gurutta’[1]
dan murid lainnya. Masih terlihat seseorang menyendiri di dalam kelas.
Menghembus nafasnya dengan perlahan. Bertingkah aneh layaknya tikus bingung
mencari makan. Merayu diri dalam kesunyian.
“Plak!” terdengar gemuruh dari dalam kelas. Lembaran bujang[2]
yang berhamburan di depan kelas. Musim gugur seolah terjadi dalam
lingkungan sekolah. Aku melihatmu disambut pagi dengan geram dan tak bergairah.
Akhir-akhir ini kau dibalut kebiasaan aneh. Di bugis, di pondok gurutta’
kau maradde[3]
hampir empat tahun. Padahal sudah sembilan belas tahun keluarga kami
menyebutnya Rahmatul Asri taman cinta kita. Belum lagi puang[4]
yang setia menjaga pondok gurutta’.
Esok hari lagi, kau menyendiri dalam kelas. jauh dari teman-teman
kita. Kukira kamu tak mendengar teriakanku di meja gurutta’.
“Sudah ,cerita saja!” pintaku pada seorang anaddara[5],
rupanya cantik dan indah bagaikan rembulan yang muncul di bitara[6]
malam.
“ Nampaknya, pondok gurutta’ tak diterima lagi oleh tubuhku”
ucapmu dengan syahdu.
“Sudahlah, hampir empat tahun lamanya kita sama di pondok gurutta’
tak ada yang salah bagi tubuhku”. Timpalku balik.
Sudah kutebak, anaddara yang dititipkan oleh ambo’nya[7]
itu tak suka dengan busana panjang. Dia lebih suka dengan indahnya
kerlap-kerlip malam hari. Padahal di pondok gurutta’ langit di malam
hari juga dihiasi banyak bintang. Sedangkan indo’nya[8]
juga tak suka anaknya memakai busana panjang. Indo’nya lebih suka anaknya
maradde di sekolah model.
Kala itu di bola pattarima tamu[9]
pondok, terdengar panggilan untuk Naimah. Si anaddara itu kedatangan
tamu. Aku kira tadinya kau sedikit tegang bercakap denganku. Tapi raut mukamu tiba-tiba saja
berubah.
“Ada apa?” tanyaku padamu.
“Ambo’ dan Indo’ku datang menjemputku”
“Hari ini? ” kejutku. Aku lihat matamu mulai berbinar-binar.
“Iya, saat ini juga”
Aku yakin kamu sangat senang dengan hal itu. Melihatmu mendengar pertanyaanku
itu sudah tak kau pedulikan. Beberapa jam lagi kamu akan beranjak dari gerbang
pondok gurutta’. Kulihat koper,tas,dan gulungan kasur sudah siap dalam
bagasi mobil.
“Sudah mau berangkat?” tanyaku yang sebenarnya ingin menahanmu
lebih lama.
“Iya, “ jawabmu sangat singkat. Wajahmu tampak lesu dan sedikit puas
hari ini.
Mobilmu melaju dan meninggalkan pondok. Aku lihat suasana aneh di
dalam mobilmu. Ah, tapi masa bodoh bagiku hari itu. Aku coba tinggalkan
suasana.
Curah hujan di sore hari. Menyejukkan terik panas matahri. Angin
terasa leluasa bermain dengan dedaunan pohon. Di halaman balai bambu gurutta’,
Aku melihat dia menyusun bujang yang berserakan didepan kelas tadi. Aku membantunya
menyusun bujang-bujang itu dan kucoba selipkan tanyaku padanya.
“Ustadz, Naimah punya masalah apa?” aku bercerita tentangmu dengan
kaku.
“Oh,itu. Saya kurang tau juga.” Singkat sang gurutta’.
Bergegas masuk ke kamarnya.
Kulihat gurutta’ lagi letih. Kuhabisi sisa air di gelasnya. Tak
peduli masalah tadi ,lalu aku beranjak dari tempat gurutta’.
Hari terus berganti, sudah setahun
tak jumpa. Akupun baru dapat kabar darimu. Kau menikmati hari-hari di sekolah
barumu. aku mendengar seorang anaddara yang begitu cerdas diantara
temannya. Rupanya indo’mu sangat senang melihatmu lebih meningkat
daripada semasa nyantri di pondok gurutta’. Beda dengan ambo’mu
yang lebih senang duduk di atas kadera aju[10].
sepertinya ambo’ mu menyimpan banyak rahasia layaknya dendam.
Rasanya jenuh, kuingin bepergian hari ini. Aku atas izin gurutta’
beranjak dari pondok. Dalam perjalanan, Kulihat diriku ragu untuk bepergian di
tempat jauh. Bulu-buluku merinding, kakiku agak bergetar sesaat mobil yang aku
tumpangi tiba di depan sebuah halaman rumah yang indah dipenuhi bunga-bunga
yang cantik. Pemiliknya seakan sama dengan taman ini, pikirku. Akupun singgah.
Lebih dekat lagi di depan ambang pintu. Aku dibuat kagum oleh
gambar kaligrafi yang menempel di pintu bambu yang terlihat rapuh. Penasaran ingin tahu siapa yang membuatnya.
“Tok,tok,tok!” ketukku tiga kali dengan sedikit tegang. Pintu
terbuka perlahan dan terlihat seorang anaddara yang terlihat lebih cantik
dibandingmu Naimah. Rambutnya panjang,berkulit putih dan tampil seksi layaknya
artis. Tampaknya ia mentupi muka dengan tangannya yang bergetar. Tapi aneh,
wajahnya tak ingin dilihat olehku.
“Naimah!. tamu disuruh masuk nak!” teriak suara ambo’-ambo’ dari
dalam rumah kepada anaddara di depanku.
“Iya, mbo’ ” ungkapya. Berhenti menutupi muka dengan kedua
tangannya.
Aku pun terkejut melihat itu. Ternyata kamu, Naimah. Seorang anaddara
yang begitu dikenal dengan parasmu yang cantik. Harimu selalu dililit oleh kudung[11]
tampak indah dilengkapi senyummu. Paling tahu tentang ilmu agama di pondok
dulu. Sungguh tak lagi berarti untuk
itu.
“Tunggu, kau tak mengerti apapun” jelasmu padaku. Kau terlihat
tegang, seakan kau mencoba meyakinkanku suatu hal.
“Sudah, cukup bagiku waktu itu” kesalku dan kecewa melihatmu. Seakan
membencimu Naimah.
Padahal dulu, kulihat kau selalu menegur teman kita yang tak dapat
kursi untuk makan dan minum. Kau jaga dustamu pada gurutta’. Manakala
kau tak pernah tinggalkan shalat malammu.
“Itu dulu!” terkamu padaku. Aku tatap matamu berkaca-kaca. Kau
terlihat menyembunyikan sesuatu Naimah.
“Masih tak mau cerita Naimah?” ku ulang kata itu dari setahun yang
lalu.
“Tidak,! Bagaimana mungkin kau peduli?” wajahmu terlihat mendendam
Naimah. Yah, seperti ambo’mu. Kau jawab itu dengan tanya pula. Kau
membuatku kaku Naimah. Tanyamu membuatku sadar dan merasa aneh. Bagaiman
mungkin aku peduli?
Terlihat suasana rumahmu berantakan. Serpihan kaca di lantai yang
terabaikan. Aku dengar suara gaduh di kamar dekat ruang tamu.
“Sudahlah mbo’, itu sudah berlalu!” tegas indo’mu
penuh kesal.
“Itu semua karena idemu kan?”. Tukasnya. wajah ambo’
melampiaskan amarah.
“Tapi, mau apa lagi? Semuanya telah terjadi mbo’. Lanjut indo’
sangat sesal.
“Andaikan saja waktu itu….” Kaku ambo’mu dan buyar air
matanya.
Aku mengikutimu Naimah, saat kau merintih berlari masuk ke kamar
itu.
“Sudah cukuplah mbo’!” teriakmu. tampak kau betul-betul
menangis Naimah.
“Ada apa mbo’?” tanyaku.
Aku coba mencampuri urusan rumah tanggamu. Sungguh terlihat suasana
menyedihkan. Aku betu-betul tak mengerti. Apa sebenarnya yang terjadi Naimah?
“Dia, Anakku. belum menikah sudah tidur dengan pria lain” timpal ambo’mu
membuka aib keluarganya karena begitu kesal dan marah.
Aku melihat kau berlari masuk ke dalam kamarmu. Sungguh deras air
matamu Naimah. Matamu terlihat membengkak . Sungguh deras pula rasa kecewa
teman kita padamu. Aku mencoba menenangkan ambo’ dan indo’. Lalu
beranjak jauh dari rumahmu.
Seminggu kau mengurung diri dalam kamar Naimah. Sudah berapa banyak
tumpukan piring nasi yang basi dekat kasurmu. Kau terus memikirkan hal itu
hingga membuatmu dirawat di rumah sakit.
Ambo’mu pun terlihat
begitu. Lebih suka duduk di kadera aju andalannya itu. Dia bercerita
banyak padaku tentangmu Naimah.
“Nak, sudah dari dulu saya mengharapkan anaddara yang pandai
tentang agama” tutur ambo’mu padaku dengan segala keyakinannya.
Sudah lima hari kau di rumah sakit Naimah. Hingga suatu saat
keadadaanmu kritis. Sungguh aku merasa panik dan khawatir. Hari itu Aku
menjengukmu. Masih terbayang ucapmu waktu itu “Bagaimana mungkin kau peduli?”.
Suatu misteri bagiku Naimah.
“Tit,tit,tit,tit,tit!” Aku melihat alat di sampingku mulai berbunyi
panjang. Monitor yang mulai menampakkan garis lurus Naimah. Sedangkan
disampingku, hanyalah ambo’mu yang buyar air matanya sejak pagi tadi.
“Naimah, bangunlah nak!. Maafkan ambo’ nak, indo’ tak
ada disini” tangis ambo’mu begitu membanjiri selimutmu.
Dadaku sesak Naimah. Terasa malaikat telah berkerumun di kamar ini.
Aku bercerita dengan tubuhmu yang terlentang. Aku menyesal Naimah. Aku telah
membencimu. Sudah kuduga kau tak seperti itu. Indo’mu lah yang memaksamu
berbohong kepada orang-orang bahwa kau telah melanggar larangan puang. Indo’
lah yang tak suka kau seperti yang diharapkan ambo’mu.
“Bangunlah nak!, kita kembali ke pondok gurutta’” harap ambo’
lagi.
“Titit,titit,titit,titit!.Ajal mendekatimu Naimah. Ambo’
sudah tak mampu membendung air mata, begitupun aku.
“Naaiiimaahhh!” teriakkan ambo’ begitu keras. Tubuhmu baru
saja menjadi mayat.
Kau telah meninggalkan kami
Naimah. Tak kau titip salam pada ambo’,indo’,gurutta’ dan
teman kita. Hanyalah air mata menetes dipipimu.
Aku bercerita di depan mayatmu yang bercucuran air mata. Kau tak
seperti itu Naimah. Lakumu yang baik dan disenangi banyak orang. Lantas aku
jujur dari tanyamu “Bagaimana mungkin kau peduli?” karena aku mencintaimu
Naimah.
Hari itu, kau memilih beranjak dari pondok gurutta’. kau
melindungiku agar ambo’ dan indo’mu tidak tahu kalau aku selalu
mengintai dan seolah mengisi harimu. Aku tahu ambo’ dan indo’ tak
suka melihat itu. Ambo’lah yang bercerita tentang itu.
Aku buka lembaran bujang itu. Aku membacanya di depan
mayatmu Naimah. “Aku mencintaimu Farhan. Kuharap kau tak percaya itu!” Tulismu
padaku dalam bujang.
1 . Gurutta’ : sebutan bagi para kyai/ustadz di daerah bugis
2. Bujang : kertas
3 . Maradde : Menetap/tinggal
4 . Puang : Tuhan
5 . Anaddara : Gadis
6 . Bitara : Langit
7 . Ambo’ : Bapak
8 . Indo’ : Ibu
9 . Bola pattarima tamu : Baruga penerimaan tamu
10 .Kadera aju : Kursi kayu.
11 .Kudung : kerudung/jilbab.
Ilham
M.R, lahir
di Enrekang, Sulawesi selatan, pada 15 Januari 1997. Ia adalah alumni MAS
Rahmatul Asri Maroangin, Enrekang, Sulawesi selatan. Saat ini, ia tercatat
sebagai mahasiswa angkatan 2015 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas
Adab dan Ilmu Budaya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sedari duduk di bangku MA (Madrasah Aliyah), Ia mulai hoby dengan
menulis dan mencoba latihan untuk berkarir dalam dunia kepenulisan. Ia juga
aktif di organisasi KIR (karya Ilmiah Remaja). Saat menghabiskan banyak waktu untuk terus latihan
menulis dan saat itu pula ia mencoba menyumbangkan karya tulisannya kepada
media kecil(kareba pustaka) majalah yang diterbitkan setiap bulan mengenai
kabar di daerah Sulawesi selatan.
Kini, Ia aktif mengikuti beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)
baik internal maupun eksternal kampus, seperti: UKM LPM ARENA (Lembaga Pers
Mahasiswa) sebagai reporter, Komunitas JOGJA RAMA (Ikatan Alumni Rahmatul Asri
cab.Yogyakarta) sebagai penulis artikel singkat ,PMII (Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia) Dll. Untuk mengenalnya lebih jauh silahkan hubungi via email :
ilhamrusdi13@yahoo.co.id / ilhamrusdi13@gmail.com
HP: 0821-8787-9955
FB:
إلهام رسدى
Akun COC: ilho'108